Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Benang Kusut Pendidikan


Tarbiyah (pendidikan) bukanlah segala-galanya, tapi segala-galanya
 tidak akan tercapai kecuali dengan tarbiyah.”

Kalimat di atas disampaikan oleh Dr. Musthafa Manshur, aktivis Ikhwanul Muslimin, dalam menjawab berbagai macam kritikan terhadap konsep tarbiyah yang disosialisasikan jamaahnya.
Setiap orang tentu menyadari, bahwa pendidikan memiliki sumbangsih yang sangat besar dalam membentuk pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan perilaku (psikomotorok) manusia. Seseorang yang berpredikat well education, biasanya lebih diutamakan untuk menempati posisi-posisi strategis daripada orang dengan berpendidikan rendah, baik di lingkungan kecil seperti di kampung dan di desa, atau pun di lingkungan yang lebih luas seperti pengelolaan perusahaan dan negara. Kualitas sumber daya manusia hari ini merupakan produk pendidikan masa lalu dan kualitas SDM masa depan sangat ditentukan oleh mutu pendidikan hari ini.

Ketika Anak Anda Suka Berbohong



Prolog
Di dalam bahasa Arab, bohong atau dusta disebut dengan Al-Kadzibu. Pengertian sederhana dari Al-Kadzibu adalah sikap sengaja mengatakan sesuatu yang tidak benar dengan tujuan memperoleh keuntungan.
Berbohong itu merupakan akhlak madzmumah (akhlak tercela). Tidak layak seorang muslim melakukan kebohongan. Seorang muslim itu harus menjunjung tinggi kejujuran. Perilaku suka berbohong meruopakan satu ciri di antara ciri orang-orang munafik sebagaimana sabda Nabi Muhammad, shallallahu ‘alaihi wa sallam,
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
Artinya: “Tanda-tanda munafiq ada tiga; jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika diberi amanat dia khianat.” (H.R. Al-Bukhari).

10 Kesalahan dalam Mendidik Anak



1.   Menumbuhkan Rasa Takut dan Minder pada Anak.
Kadang, ketika anak menangis, kita menakut-nakuti mereka agar berhenti menangis. Kita takuti mereka dengan gambaran hantu, jin, suara angin, dan lain-lain. Dampaknya, anak akan tumbuh menjadi seorang penakut; takut pada bayangannya sendiri, takut pada sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakutinya. Misalnya: takut ke kamar mandi sendiri, takut tidur sendiri karena seringnya mendengar cerita tentang hantu, jin dan lain-lain. Dan yang paling parah, tanpa disadari, kita telah menanamkan rasa takut kepada dirinya sendiri. Atau misalnya, kita khawatir ketika mereka jatuh dan ada darah di wajahnya, tangan atau lututnya.